Desa memiliki peran penting dalam perekonomian nasional dan menjadi fokus utama pembangunan, terutama dalam sektor ekonomi lokal. Dengan banyaknya potensi yang ada, perkembangan usaha di lingkungan desa semakin menjanjikan. Berbagai inisiatif dari pemerintah dan lembaga swadaya juga semakin mendorong pertumbuhan potensi ini.
Dalam konteks ini, kita melihat adanya pengembangan infrastruktur serta program dukungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kembalinya tenaga kerja muda dan sarjana ke desa membuka peluang baru untuk menciptakan usaha lokal yang inovatif dan berkelanjutan.
Berbagai sumber daya alam di desa dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal. Dengan biaya operasional yang rendah dan permintaan yang terus ada, usaha di desa berpotensi memberikan keuntungan yang signifikan bagi pengusaha.
Peluang Usaha Menjanjikan di Desa pada Tahun 2026
Ada beberapa faktor yang membuat usaha di desa semakin prospektif dalam beberapa tahun ke depan. Pertama, biaya sewa tempat yang jauh lebih murah dibandingkan di kota, bahkan ada yang bisa menggunakan rumah sendiri. Hal ini membuat modal awal bisa ditekan.
Kedua, kebutuhan masyarakat yang stabil dan bersifat rutin. Misalnya, kebutuhan bahan makanan, pakaian, dan layanan lainnya yang selalu dicari masyarakat. Dengan demikian, peluang untuk mendapatkan pelanggan cukup besar.
Ketiga, persaingan bisnis di desa cenderung lebih sedikit dibandingkan di kota. Hal ini memudahkan pelaku usaha baru untuk memulai dan mengembangkan usahanya. Selain itu, akses internet yang semakin luas memudahkan pengusaha untuk memasarkan produk mereka.
Usaha Ternak Ayam Kampung Sebagai Peluang Bisnis
Ternak ayam kampung kini menjadi salah satu usaha yang sangat menarik di desa. Permintaannya yang stabil dan harga jual yang lebih tinggi dibandingkan ayam broiler menjadikannya pilihan tepat. Banyak orang mencari ayam kampung untuk konsumsi sehari-hari hingga acara tertentu karena dianggap lebih alami dan lezat.
Usaha ini juga cukup fleksibel, dapat dimulai dalam skala kecil di halaman rumah tanpa perlu memerlukan lahan yang luas. Modal untuk memulai ternak ayam kampung pun relatif kecil, sekitar Rp1-2 juta untuk bibit, pakan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Estimasi Modal dan Potensi Keuntungan
-
Bibit ayam kampung (50 ekor): Rp400.000 – Rp600.000
-
Pakan awal: Rp500.000 – Rp800.000
-
Kandang sederhana: Rp300.000 – Rp600.000
-
Total modal awal: sekitar Rp1-2 juta.
Jika dikelola dengan baik, peternak ayam kampung dapat memanen dalam waktu 3-4 bulan dengan potensi keuntungan bersih hingga Rp1 juta per siklus. Target pasar yang bisa dijangkau juga cukup luas, dari warga sekitar, pedagang pasar, hingga warung makan.
Usaha Penggilingan atau Jasa Serut Kelapa di Desa
Usaha jasa penggilingan atau serut kelapa menjadi peluang yang cukup menjanjikan. Di desa, banyak masyarakat yang memerlukan kelapa parut untuk memasak, baik untuk keperluan sehari-hari maupun untuk acara khusus. Keberadaan jasa ini sangat penting, terutama bagi mereka yang tidak memiliki alat parut di rumah.
Modal awal untuk memulai usaha ini pun cukup terjangkau, dengan estimasi sekitar Rp1-2 juta untuk mesin serut kelapa dan perlengkapan lainnya. Dengan biaya operasional yang rendah, pemiliki usaha dapat meraup keuntungan signifikan terutama saat musim hajatan.
Potensi Keuntungan dan Target Pasar
-
Tarif jasa: Rp500 – Rp2.000 per butir kelapa.
-
Jika melayani 50-100 butir per hari, potensi pendapatan harian bisa mencapai Rp25.000 – Rp200.000.
Target pasar untuk jasa serut kelapa juga mencakup ibu rumah tangga, pedagang kue, hingga warung makan. Jika dikelola dengan baik, usaha ini dapat memberikan keuntungan yang konsisten dan berkelanjutan.
Budidaya Lele atau Nila Sebagai Usaha Menguntungkan
Usaha budidaya ikan air tawar seperti lele atau nila cocok untuk dilakukan di desa. Teknik pemeliharaannya yang relatif mudah dan tidak memerlukan lahan luas membuatnya ideal bagi para peternak pemula. Permintaan ikan lele dan nila terus meningkat, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun sebagai lauk di warung makan.
Modal awal untuk budidaya ikan lele juga terbilang terjangkau, mulai dari Rp1-2 juta. Dalam waktu yang relatif singkat, peternak dapat memanen hasilnya dan mendapatkan keuntungan yang menjanjikan.
Potensi Keuntungan dan Manajemen Usaha
-
Potensi omzet: Rp1,5 juta – Rp2,5 juta per siklus.
-
Keuntungan bersih per kolam: Rp300.000 – Rp800.000 per panen.
Dengan manajemen yang baik, risiko gagal panen dapat diminimalkan. Jaringan pasar yang baik dapat membantu stabilitas harga jual yang menguntungkan.
Usaha Gorengan dan Jajanan Rumahan di Desa
Usaha gorengan menjadi salah satu peluang bisnis yang praktis dan cukup menguntungkan di desa. Keberadaan makanan ringan dengan harga terjangkau selalu diminati berbagai kalangan, dari anak sekolah hingga orang dewasa. Modal yang diperlukan pun tidak terlalu besar, berkisar antara Rp200.000 – Rp300.000 per hari.
Dengan strategi penjualan yang tepat, seperti menyediakan berbagai jenis gorengan, omzet harian dapat mencapai Rp300.000 – Rp450.000, dengan keuntungan bersih sekitar Rp50.000 – Rp150.000 per hari.
Jenis Gorengan yang Populer di Desa
-
Tempe goreng tepung – jual Rp1.000 – Rp2.000 per potong.
-
Pisang goreng – bisa menggunakan berbagai jenis pisang untuk variasi.
-
Cireng dan cakwe – camilan yang disukai anak-anak dan remaja.
Dengan lokasi penjualan yang strategis, seperti dekat sekolah atau area pasar, usaha gorengan dapat berkembang pesat, menjadikannya sumber pendapatan harian yang menjanjikan.
Jasa Menjahit, Permak, dan Konveksi di Desa
Jasa menjahit dan permak juga menawarkan peluang usaha yang menjanjikan di desa. Kebutuhan akan pakaian baru atau perbaikan pakaian yang rusak adalah hal yang biasa di masyarakat. Modal awal dapat dimulai dari Rp2-5 juta, cukup untuk membeli mesin jahit dan perlengkapan dasar lainnya.
Jika dikelola dengan baik, usaha ini mampu memberikan margin keuntungan yang cukup tinggi, karena biaya operasional yang rendah dan permintaan yang stabil. Pelanggan yang puas akan merekomendasikan jasa ini kepada orang lain, memperluas jangkauan pasar.
Dengan memanfaatkan tren lokal dan berfokus pada kualitas, usaha jahit ini dapat berkembang dari perbaikan pakaian ke produksi barang fashion yang lebih luas.










