Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai kemungkinan munculnya gelombang panas ekstrem di Indonesia. Meski tren krisis iklim terus meningkat, peluang terjadinya fenomena ini dinilai tetap kecil untuk wilayah kita.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa karakteristik atmosfer Indonesia yang didominasi oleh pergerakan udara vertikal dan kelembapan tinggi dapat menjadi penghalang terjadinya gelombang panas. Hal ini berbeda dengan wilayah lain seperti Eropa dan Amerika yang sering mengalami gelombang panas yang menyengat.
Dalam penjelasannya, Ardhasena menunjukkan bahwa gelombang panas ekstrem sering terjadi di area dengan sirkulasi udara horizontal yang kuat. Kondisi ini membuat panas terperangkap lebih lama, sementara Indonesia memiliki sifat atmosfer yang mencegah hal tersebut.
Memahami Karakteristik Atmosfer Indonesia dan Dampaknya
Pergerakan udara yang cenderung vertikal di Indonesia mengakibatkan penyerapan panas menjadi tidak efektif. Menurut BMKG, suhu yang sangat tinggi melebihi 45 derajat Celsius sangat kecil kemungkinannya terjadi di wilayah ini.
Kondisi iklim di Indonesia juga diperkuat oleh tutupan awan yang tinggi dan konveksi yang aktif. Kedua faktor ini berkontribusi pada keterbatasan dalam terjadinya gelombang panas, menjadikannya tidak sebanding dengan daerah lain yang mengalami fenomena tersebut.
Meskipun demikian, BMKG memperingatkan bahwa pemanasan jangka panjang tetap menjadi perhatian. Kenaikan suhu rata-rata dan kelembapan udara dapat memengaruhi kenyamanan hidup serta kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
Pemanasan Jangka Panjang dan Prediksi Suhu di Masa Depan
BMKG memproyeksikan bahwa suhu rata-rata tahunan Indonesia pada tahun 2026 akan berada di kisaran 25-29 derajat Celsius. Suhu yang lebih rendah diharapkan terjadi di dataran tinggi seperti Pegunungan Bukit Barisan dan Latimojong.
Namun, beberapa wilayah, terutama di Sumatra bagian selatan dan Kalimantan, diperkirakan mengalami suhu rata-rata di atas 28 derajat Celsius. Ini menunjukkan bahwa meskipun tidak ada gelombang panas ekstrem, kondisi panas yang nyaris sama tetap ada.
BMKG juga mengingatkan bahwa meskipun tidak ada heatwave, kombinasi antara suhu tinggi dan kelembapan tetap dapat membawa risiko bagi kesehatan, terutama bagi kelompok yang rentan.
Pentingnya Antisipasi dalam Menghadapi Perubahan Iklim
Antisipasi terhadap kenaikan suhu dan kelembapan yang berkelanjutan harus dilakukan dengan serius. Kenaikan suhu dan kelembapan yang terus-menerus dapat meningkatkan risiko bagi kesehatan masyarakat, terutama di musim transisi.
Kelembapan tinggi pada saat tertentu sering kali membuat kondisi menjadi sangat gerah dan tidak nyaman. Hal ini perlu menjadi perhatian, terutama menjelang musim-musim tertentu di mana suhu dan kelembapan cenderung berfluktuasi.
Akhirnya, BMKG menegaskan pentingnya kesadaran akan perubahan iklim dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Pendidikan dan informasi yang tepat adalah kunci untuk mengurangi potensi dampak negatif dari perubahan iklim yang semakin terasa.








