Di tahun 2026, perekonomian global menghadapi transformasi tak terduga. Berbeda dengan langkah-langkah stimulus agresif yang terlihat pada awal dekade ini, kini ada fenomena Soft Quantitative Easing (Soft QE) yang diusung oleh para ahli strategi makro.
Keberadaan Soft QE tidak ditandai dengan pengumuman besar, melainkan lebih kepada operasi diam-diam di mana bank sentral menyuntikkan likuiditas ke pasar dan mencegah pasar obligasi dari kebangkrutan. Walaupun metodologinya berbeda, efek yang ditimbulkannya mirip, yakni lonjakan pada jumlah uang beredar (M2 Money Supply).
Perubahan ini merupakan indikator penting bagi para investor. Ketika likuiditas mulai mengalir, ada skenario di mana uang tunai mengalami devaluasi tanpa disadari, menjadikan pertanyaan tentang investasi lebih kompleks.
Dengan latar belakang tersebut, artikel ini akan membahas strategi investasi untuk tahun 2026, termasuk peran Bitcoin, Saham Proksi, dan instrumen derivatif di berbagai ekosistem. Sebelum masuk lebih dalam, penting bagi investor untuk memahami fenomena Soft QE.
Di tahun ini, banyak negara maju terjebak dalam siklus Fiscal Dominance. Kondisi utang pemerintah telah mencapai titik di mana pembayarannya menjadi sangat sulit, khususnya saat suku bunga naik. Oleh karena itu, bank sentral terpaksa melakukan intervensi untuk menekan biaya pinjaman, inilah yang disebut Soft QE.
Dampak Soft QE langsung terlihat dalam inflasi harga aset. Uang yang baru beredar tidak langsung menuju kebutuhan dasar, melainkan terfokus pada aset finansial terlebih dahulu, sebuah fenomena yang dikenal sebagai Efek Cantillon. Dalam rangkaian ini, berpegang pada uang tunai menjadikan diri kita rentan terhadap kerugian daya beli, sementara aset yang mengalami kelangkaan absolut justru mendapat keuntungan dari arus likuiditas yang berlebihan.
Peran Bitcoin dalam Lanskap Investasi 2026
Jika kita menganggap Soft QE sebagai ‘air bah’, maka Bitcoin bisa dilihat sebagai ‘bahtera’ yang mampu melindungi investor. Para investor institusional kini melihat Bitcoin sebagai indikator likuiditas global, dan ada pola historis yang menunjukkan bahwa harga Bitcoin biasanya merespons dengan kenaikan tajam saat neraca bank sentral ditambah.
Satu hal yang membuat Bitcoin unik adalah suplainya yang tidak dapat dikontrol oleh kebijakan manusia. Sifat inelastic supply ini membuat Bitcoin sangat peka terhadap kemasukan uang fiat. Ketika permintaan meningkat akibat pelarian dari mata uang tradisional, harga Bitcoin tentu akan terdorong naik.
Oleh karena itu, investor yang bijak harus mempertimbangkan Bitcoin sebagai salah satu instrumen utama untuk berinvestasi. Permintaan yang terus meningkat di tengah likuiditas berlebih menjadikannya aset yang harus diperhitungkan pada tahun ini.
Saham Proksi: Alternatif Menarik di Pasar Saham
Investasi dalam bidang crypto tidak selalu berarti membeli koin secara langsung. Salah satu tren menarik di tahun 2026 adalah pemanfaatan Saham Proksi di pasar AS, memberikan eksposur terhadap crypto dalam konteks pasar saham yang telah terregulasi.
Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah mengamati kinerja MicroStrategy (MSTR). Perusahaan ini seolah bertindak sebagai ETF Bitcoin ber-leverage, meminjam dana untuk menyimpan Bitcoin dan menikmati efek pengungkit alami dari kenaikan harga Bitcoin.
Selain itu, infrastruktur yang dibangun oleh Coinbase (COIN) membuatnya menjadi “penjual sekop” terbesar dalam ekosistem crypto. Pendapatan Coinbase tergantung pada volatilitas dan volume perdagangan, bukan sekadar pergerakan harga, menjadikannya pilihan menarik bagi investor.
Terakhir, Robinhood (HOOD) mencerminkan sentimen investor ritel. Kenaikan harga sahamnya sering kali menjadi indikator utama bagaimana pasar massal merespons pergerakan harga. Ini menciptakan peluang bagi para investor yang ingin mengikuti arus.
Strategi Derivatif: Memaksimalkan Peluang dengan Options dan Futures
Bagi investor yang lebih berpengalaman, menggunakan instrumen seperti US Stock Options dan Crypto Futures memungkinkan untuk merancang strategi investasi yang lebih presisi berdasarkan waktu dan arah pasar. Peluang ini sangat potensial untuk dimanfaatkan menurut kondisi pasar.
Dalam skenario bullish, strategi Long Call Option bisa memberikan keuntungan yang signifikan. Dengan modal relatif kecil, Anda bisa mengunci hak untuk membeli saham di harga tertentu dan manakala harga saham naik, keuntungan Anda bisa berlipat ganda.
Di sisi lain, untuk skenario akumulasi cerdas, Anda bisa mempertimbangkan menggunakan Short Put Option. Ini bisa memberi Anda kesempatan untuk membeli saham dengan harga lebih rendah sambil mendapatkan premi tunai.
Investor juga perlu memikirkan skenario ketika pasar berisiko.Harga saham bisa turun, dan di sinilah penggunaan Long Put Option berperan sebagai asuransi. Dengan demikian, Anda bisa melindungi portofolio Anda dari kerugian yang mungkin terjadi.
Sementara itu, pasar juga bisa berbalik arah. Menggunakan Crypto Futures untuk melakukan Short Selling adalah cara lain bagi investor untuk mendapatkan keuntungan dari penurunan harga. Leverage yang tinggi memberikan peluang untuk meraih keuntungan dari pergerakan kecil.
Peraturan Pajak dan Kepatuhan di Tahun 2026
Di tengah berbagai strategi investasi yang kian beragam, pemahaman tentang regulasi pajak juga harus diperhatikan. Tahun 2026 menjanjikan kejelasan dalam pengaturan pajak yang dapat mendukung keuntungan bersih yang lebih baik.
Pertama, mengenai pajak atas transaksi crypto, pemerintah telah memberikan insentif melalui peraturan yang menguntungkan. Transaksi pembelian crypto dikenakan pajak nol persen, dan pajak atas penjualan dikenakan secara otomatis, membuat prosesnya efisien dan sederhana.
Kedua, Pajak Saham AS dan derivatif termasuk dalam kategori penghasilan investasi yang mesti dilaporkan dalam SPT Tahunan. Hal ini sangat penting agar investor mematuhi regulasi dan tidak terkena sangsi akibat ketidaktahuan.
Ketiga, ada juga keberadaan PPN yang dikenakan, tetapi ini hanya berlaku untuk biaya transaksi, bukan nilai aset. Ini menjaga efisiensi bagi trader aktif, saat berinvestasi dalam aset yang berbeda.
Dengan begitu banyak pilihan yang tersedia, tahun 2026 bukanlah saatnya untuk menjadi penonton. Gelombang likuiditas dari Soft QE akan berlanjut, dan sangat penting untuk memanfaatkan momentum tersebut demi mendapatkan keuntungan.











