Perairan Selat Mulut Kumbang yang terletak di Nusa Tenggara Timur memiliki fenomena alam yang luar biasa dan jarang terjadi di belahan dunia lainnya. Suhu air laut dapat turun drastis dari 28 derajat Celcius menjadi 12 derajat Celcius dengan cepat, menyebabkan ikan-ikan di sekitarnya pingsan. Fenomena ini dikenal dengan nama Extreme Upwelling Event (EUE), yang menjadi perhatian para peneliti dan ilmuwan.
Fenomena ekstrem ini seringkali tidak hanya mengubah kondisi fisik perairan, tetapi juga memengaruhi ekosistem laut di sekitarnya. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional mengungkapkan bahwa EUE merupakan kejadian di mana air laut dingin dari lapisan dalam naik ke permukaan secara tiba-tiba, dan ini memunculkan banyak pertanyaan mengenai dampak dan mekanismenya.
Dengan perubahan suhu yang drastis, kejadian ini tidak hanya menimbulkan efek jangka pendek, tetapi juga berpotensi memengaruhi kehidupan jangka panjang di ekosistem tersebut. Oleh karena itu, memahami EUE menjadi penting tidak hanya bagi komunitas ilmiah tetapi juga bagi masyarakat lokal yang bergantung pada sumber daya laut.
Memahami Extreme Upwelling Event yang Unik di Alor Kecil
Dalam penjelasannya, peneliti menjelaskan bahwa EUE dapat terjadi dalam periode yang singkat namun dengan dampak yang signifikan. Menurut data yang ada, penurunan suhu ini bisa mencapai sepuluh derajat dalam satu jam, konten yang sangat luar biasa dan belum pernah terjadi di wilayah tropis lainnya.
Guru Besar di bidang oseanografi menjelaskan bahwa EUE secara konsisten berhubungan dengan pergerakan pasang purnama, yang menjadi faktor kunci dalam dinamika perairan. Pasang purnama mendorong arus vertikal yang membawa air dingin dari kedalaman ke permukaan.
Sebagai contoh, kondisi air laut yang mengalami kenaikan salinitas dari 30 PSU menjadi 36 PSU menunjukkan bahwa air yang naik berasal dari lapisan laut dalam. Oleh karena itu, fenomena ini memiliki kedalaman yang kompleks dalam hal interaksi fisik air laut.
Pentingnya EUE dalam Ekosistem dan Dampaknya
Kejadian EUE berlangsung selama kira-kira 1 hingga 4 hari dan dapat terjadi dua kali dalam sehari, tergantung pada siklus pasang surut. Hal ini menambah tingkat kompleksitas yang menjadi perhatian para ilmuwan agar dapat memahami lebih dalam dampak yang dihasilkannya.
Di sisi lain, ikan tropis yang terkejut dengan penurunan suhu ini cenderung mengalami dampak fatal, seperti pingsan dan menjadi lebih mudah ditangkap. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi spesies ikan, tetapi juga menarik perhatian predator seperti lumba-lumba yang memanfaatkan momen tersebut untuk berburu.
Oleh karena itu, mempelajari EUE tidak hanya menjadi topik ilmiah yang menarik, melainkan juga menjadi kunci untuk memahami interaksi antara berbagai spesies dalam ekosistem laut yang kompleks ini. Dengan pengetahuan ini, upaya untuk melestarikan kehidupan laut lokal menjadi semakin penting.
Menentukan Potensi Wisata dari Fenomena Alam yang Langka
Dampak EUE tidak hanya terbatas pada aspek ekologis tetapi juga mengandung potensi ekonomi yang signifikan. Fenomena ini menawarkan peluang untuk pengembangan pariwisata berbasis konservasi di wilayah ini, mengingat keunikan dan kelangkaannya.
Dengan memanfaatkan momen EUE, wisatawan dapat disuguhkan dengan pengalaman yang tidak hanya mengedukasi tetapi juga menarik dalam konteks ekosistem laut. Keberadaan lumba-lumba dan berbagai spesies laut yang terpengaruh oleh fenomena ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Sangat penting bagi masyarakat lokal untuk dapat merasakan manfaat dari fenomena ini. Dengan Pendidikan dan pengembangan infrastruktur yang baik, wisatawan dapat mengamati keindahan alam dan perilaku menarik dari biota laut tanpa merusak lingkungan yang ada.









