Di tengah perbincangan tentang kondisi ekonomi, keberadaan generasi Z menjadi sorotan menarik. Dengan situasi keuangan yang serba sulit, gaya hidup mereka sangat berbeda dibandingkan dengan generasi milenial yang lebih dulu hadir.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan generasi Z justru lebih rendah dibandingkan dengan generasi milenial pada usia yang sama sepuluh tahun lalu. Hal ini membuat mereka terjebak dalam situasi keuangan yang lebih buruk.
Salah satu studi oleh lembaga riset terkemuka mengungkapkan bahwa generasi Z, yang saat ini berusia antara 22 hingga 24 tahun, memperoleh rata-rata pendapatan yang jauh dari harapan. Pendapatan ini sangat berbeda dengan apa yang dialami oleh generasi sebelumnya di masa yang sama.
Dampak Inflasi terhadap Keuangan Generasi Z
Inflasi menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kondisi keuangan generasi Z. Ketika banyak dari mereka mulai memasuki dunia kerja, inflasi berada pada level tertinggi dalam empat dekade terakhir.
Situasi ini telah menciptakan beban yang berat, di mana biaya hidup semakin tinggi. Hal ini mengakibatkan krisis kepercayaan diri terhadap keadaan finansial mereka sendiri.
Menariknya, persentase responden dari generasi Z yang merasa tertekan dengan situasi keuangan jauh lebih tinggi dibandingkan milenial satu dekade lalu. Pengaruh inflasi ini merembet ke berbagai aspek kehidupan.
Selain itu, situasi inflasi yang buruk juga menyebabkan perubahan pola perilaku finansial. Banyak dari mereka yang lebih memilih menggunakan kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, hal ini memberikan dampak yang cukup signifikan.
Lebih dari 80% generasi Z mengandalkan kartu kredit, membuktikan bahwa cara pandang mereka terhadap utang juga mengalami perubahan seiring keadaan ekonomi yang sulit. Ini menjadikan generasi Z sebagai generasi yang berutang lebih awal.
Perbandingan dengan Generasi Milenial
Jika kita melihat kembali sepuluh tahun lalu, generasi milenial memiliki tingkat pendapatan yang lebih tinggi. Namun, tantangan yang mereka hadapi pun tidak bisa dianggap sepele, meskipun rasio utang juga lebih rendah.
Generasi Z menghadapi realitas baru yang lebih sulit, di mana mereka harus berjuang dengan upah yang stagnan dan biaya hidup yang terus melonjak. Hal ini menciptakan perbedaan yang signifikan dalam cara kedua generasi ini mengelola keuangan.
Meskipun banyak dari generasi Z yang mengandalkan kartu kredit, mereka tetap kewalahan dengan utang pendidikan dan biaya hidup yang sangat tinggi. Berbeda dengan milenial yang lebih bisa memanfaatkan peluang, generasi Z kerap kali terjebak dalam situasi yang lebih keras.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak stabil, generasi Z perlu menghadapi tantangan yang bisa jadi membatasi potensi mereka di masa depan. Mereka tidak hanya berlomba-lomba dalam membangun karier, tetapi juga harus pintas dalam mengelola keuangan dengan bijaksana.
Tekanan yang mereka alami tentunya akan memengaruhi keputusan besar dalam hidup, seperti perumahan dan keluarga. Mereka harus membangun strategi finansial yang tepat dan berkelanjutan untuk mencapai tujuan jangka panjang.
Perubahan Pola Pekerjaan dan Pendidikan
Adanya pergeseran menuju gig economy pun menjadi tantangan tersendiri bagi generasi Z. Jenis pekerjaan ini menawarkan fleksibilitas, tetapi sering kali lebih rentan dan tidak stabil.
Banyak di antara mereka yang terjebak dalam pekerjaan tanpa perlindungan dan tunjangan yang layak. Hal ini berbeda jauh dengan generasi milenial yang memiliki struktur pekerjaan yang lebih teratur pada awal karier mereka.
Pendidikan tinggi yang semakin mahal juga sangat berpengaruh. Generasi Z dihadapkan pada utang pendidikan yang membebani, tidak seperti generasi sebelumnya yang tidak harus menghadapi tingginya biaya tersebut secara bersamaan.
Faktor-faktor tersebut menciptakan jurang yang lebih dalam antara generasi yang lebih tua dan generasi Z. Setiap keputusan mereka berpotensi berdampak jangka panjang terhadap keamanan finansial mereka.
Memasuki dunia kerja pada masa krisis memberikan dampak mendalam bagi generasi Z. Keterbatasan kesempatan kerja yang baik semakin membuat mereka sulit untuk bersaing di dunia yang sudah penuh dengan tantangan.











