Fenomena astronomi gerhana bulan total yang terjadi pada 7 September baru-baru ini memukau banyak orang di Sulawesi Tenggara. Dengan kondisi langit yang cerah, masyarakat berkesempatan untuk mengamati keindahan perubahan warna bulan menjadi merah saat puncak gerhana.
Kepala Stasiun Geofisika di Kendari, Rudin, menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi ketika matahari, bumi, dan bulan berada dalam posisi yang sejajar. Pergerakan ini adalah keteraturan alami yang mengubah penampilan bulan selama beberapa jam.
Saat gerhana mencapai puncak, bulan akan terlihat berwarna kemerahan, fenomena yang sering disebut “Blood Moon”. Kejadian ini hanya dapat disaksikan pada saat fase purnama dan telah diprediksi sebelumnya oleh para astronom.
Peristiwa Alam yang Menarik Perhatian Masyarakat
Pada malam itu, masyarakat di 17 kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara merasakan pengalaman yang tidak terlupakan. Banyak yang berkumpul di lapangan atau di atap rumah untuk menyaksikan keindahan langit malam. Semua orang tampak antusias menanti momen ketika bulan berwarna merah muncul.
Selain menjadi tontonan utama, gerhana bulan juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan pengetahuan sains di kalangan masyarakat. Banyak warga yang mulai mempertanyakan tentang cara terjadinya gerhana dan fenomena astronomi lainnya. Ini adalah langkah penting dalam meningkatkan literasi ilmiah.
Bukan hanya itu, para astronom pemula pun berkesempatan untuk menggunakan teleskop dan alat pengamatan lainnya. Kegiatan ini tak hanya menyenangkan tetapi juga mendidik, memberikan wawasan baru tentang langit dan pergerakan benda langit.
Cara Melihat dan Mengamati Gerhana Bulan Total
Bagi masyarakat yang tidak memiliki akses ke teleskop, ada cara lain untuk menikmati gerhana bulan. Gerhana bulan total bisa dilihat dengan mata telanjang, selama langit tidak terhalang oleh awan. Namun, bagi yang ingin melihat detail lebih jelas, menggunakan binocular atau teropong adalah pilihan yang baik.
Pada malam gerhana, Rudin mengingatkan pentingnya untuk mencari lokasi pengamatan yang tinggi dan bebas dari polusi cahaya. Ini sangat membantu untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas dan menakjubkan dari perubahan yang terjadi pada bulan.
Penting juga untuk memahami tahapan gerhana bulan. Prosesnya dimulai dari fase penumbra dimana bayangan bulan mulai terlihat, dan berlanjut ke fase gerhana sebagian sebelum mencapai gerhana total. Setiap tahap memiliki keindahan tersendiri yang patut untuk disaksikan.
Prediksi dan Persiapan untuk Gerhana Mendatang
Berdasarkan pengamatan dan perhitungan yang dilakukan oleh para ilmuwan, gerhana bulan total berikutnya diprediksi akan terjadi pada tanggal 7 September 2025. Menyambut momen ini, Stasiun Geofisika Kendari telah mempersiapkan pengamatan yang lebih baik. Ini termasuk kolaborasi dengan berbagai pihak untuk melakukan edukasi dan pengamatan bersama.
Penyuluhan tentang fenomena gerhana dan pergerakan alam lainnya akan menjadi bagian dari agenda tersebut, mendekatkan masyarakat kepada ilmu pengetahuan. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat akan semakin tertarik untuk belajar dan lebih menghargai alam semesta di sekitar kita.
Melalui kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh lembaga terkait, diharapkan akan semakin banyak orang yang melek sains dan ortam langit. Mengamati bintang dan fenomena alam lain menjadi kegiatan yang bisa mendorong rasa ingin tahu dan cinta terhadap ilmu pengetahuan!








