PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF), yang dikenal dengan nama Infranexia, dirancang untuk mengelola bisnis dan aset fiber optik milik Telkom. Melalui langkah strategis ini, Telkom berharap dapat mencapai target pendapatan yang lebih beragam dan mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari Telkomsel.
Hal ini tercatat oleh Direktur Strategic Business Development & Portfolio, Seno Soemadji, yang menjelaskan bahwa proporsi kontribusi Telkomsel diharapkan akan berkurang hingga 2030, meskipun nilai absolut pendapatan dari Telkomsel akan tetap tinggi.
Dengan adanya pengelolaan yang terfokus, Telkom berupaya untuk menciptakan beberapa sumber pendapatan baru. Salah satu contohnya adalah dari Infra co, di mana akan melibatkan data center serta B2B ICT co untuk meningkatkan diversifikasi pendapatan.
Pendirian Infranexia dan Tujuannya dalam Bisnis Fiber Optik
Seno menambahkan bahwa Telkom kini memiliki empat kluster bisnis, termasuk B2C, B2B infrastruktur, dan B2B ICT. Kluster B2B infrastruktur mencakup pengelolaan data center dan fiber optik, termasuk Infranexia yang kini menjadi pusat perhatian.
Pemisahan aset ini diharapkan dapat memfasilitasi pengembangan infrastruktur jaringan fiber optik dengan lebih baik. Dengan strategi ini, diharapkan bahwa Infranexia dapat menjadi entitas yang fokus dan efektif dalam berbagai aspek pengelolaan fiber.
Pendapatan fiber optik diharapkan tidak lagi dominan dari Telkomsel, agar bisnis baru bisa berkontribusi lebih signifikan ke pendapatan Telkom secara keseluruhan. Proses pemisahan ini berkembang sejalan dengan target perusahaan untuk mencapai efisiensi yang lebih baik.
Strategi Pengembangan dan Potensi Infranexia
Menurut Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, pemisahan ini bertujuan untuk menciptakan nilai optimal dalam monetisasi fiber optik. Hal ini dianggap penting di tengah persaingan di industri telekomunikasi yang semakin ketat.
Lebih dari itu, Infranexia berfungsi untuk mengonsolidasikan dan mengelola infrastruktur wholesale fiber connectivity, sehingga memberikan layanan konektivitas yang lebih luas kepada pelanggan. Diharapkan hal ini akan meningkatkan efisiensi dan inovasi dalam industri.
Saat ini, tahap pertama pemisahan aset telah dilakukan, dengan target fase kedua pada semester 2026. Ini menandakan bahwa Telkom berkomitmen untuk menjalani langkah ini demi pencapaian jangka panjang perusahaan.
Pendapatan dan Target Ke depannya
Pada kuartal III-2025, Telkom mencatatkan revenue sebesar Rp109,6 triliun, di mana kontribusi dari Telkomsel mencapai Rp81,3 triliun. Angka ini menunjukkan betapa signifikan kontribusi Telkomsel dalam keseluruhan pendapatan perusahaan saat ini.
Namun, Telkom berharap seiring dengan pengembangan Infranexia, proporsi pendapatan dari Telkomsel akan dapat berkurang. Hal ini dilakukan agar bisnis dari dari luar Telkomsel dapat tumbuh secara signifikan ke depannya.
Dengan rencana strategis ini, diharapkan tidak hanya Telkomsel yang berkontribusi, tapi juga sektor lain dari perusahaan dapat memberikan dampak positif dan pertumbuhan bagi keseluruhan kelompok usaha.








