Tahun 2025 baru memperlihatkan dampaknya, ditandai dengan berbagai bencana yang terus melanda wilayah Indonesia, khususnya di Sumatra. Jumlah laporan tentang bencana ini semakin meningkat, menciptakan kesan bahwa krisis iklim di negara ini tidak kunjung berakhir dan masih memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Tren liputan bencana iklim sudah berlangsung selama lima tahun terakhir, seiring dengan meningkatnya frekuensi dan skala kerusakan yang ditimbulkan. Meskipun media terus melaporkan, tampaknya upaya ini tidak diiringi dengan perubahan kebijakan yang berarti untuk mencegah bencana serupa di masa depan.
Siklus bencana yang berulang ini menciptakan kelelahan di kalangan jurnalis yang meliput isu-isu iklim yang kian mendesak.
Persoalan Kelelahan dalam Jurnalisme Iklim dan Dampaknya
Dalam kalangan jurnalis iklim, istilah burnout semakin sering muncul, mencerminkan lelahnya mereka akibat ketidaksesuaian antara kerja berat lapangan dan respons kebijakan yang tidak bergerak. Kelelahan ini bukan hanya fisik, melainkan tekanan mental yang dihasilkan dari melihat hasil kerja mereka tidak berdampak.
Meski jurnalisme diharapkan dapat memengaruhi kebijakan melalui keterbukaan, realitas di lapangan sering kali menunjukkan sebaliknya. Meskipun fakta-fakta ilmiah mengenai perubahan iklim tersedia dan terbukti, respons dari pengambil keputusan sangat minim atau terlambat.
Data ilmiah tentang dampak perubahan iklim telah menjadi sorotan di berbagai konferensi internasional, namun perubahan kebijakan di tingkat lokal seolah terputus dari kebenaran ilmiah yang ada. Dari Aceh hingga Ambon, dampak bencana terasa langsung, tetapi tindakan kebijakan seringkali tidak sejalan dengan realitas yang ada.
Repetisi Berita dan Munculnya Kebosanan
Repetisi dalam pemberitaan, seperti melaporkan bencana yang dianggap “terburuk dalam sepuluh tahun terakhir,” membawa dampak buruk pada persepsi publik dan jurnalis. Pengulangan frasa dan istilah yang sama dapat menyebabkan kejenuhan, baik bagi pembaca maupun jurnalis yang meliputnya.
Situasi ini diperparah dengan sejumlah komitmen yang diulang dari tahun ke tahun, tanpa ada dampak nyata di lapangan. Pembaca menjadi skeptis, dan jurnalis sendiri mungkin merasa kehilangan semangat untuk melaporkan berita yang sama berulang kali.
Pemahaman bahwa bencana iklim selalu bisa terjadi menambah kompleksitas dalam jurnalisme. Ini dapat menciptakan kesan bahwa bencana adalah hal biasa, yang berpotensi mengurangi rasa urgensi untuk bertindak.
Risiko dan Ancaman dalam Meliput Isu Lingkungan
Bagi jurnalis yang menyelidiki isu-isu berat seperti deforestasi atau konflik agraria, risiko yang dihadapi semakin meningkat. Ancaman intimidasi, tekanan hukum, bahkan ancaman fisik menjadi kenyataan sehari-hari bagi banyak profesional di lapangan.
Dalam situasi ini, melaporkan krisis iklim bukan saja berisiko, tetapi juga dapat menyebabkan dampak psikologis yang mendalam. Jurnalis dalam situasi seperti ini tidak hanya berjuang untuk mendapatkan berita, tetapi juga untuk menjaga keselamatan diri mereka.
Di samping itu, banyak jurnalis menghadapi tantangan yang datang dari disinformasi dan serangan digital yang meningkat. Potensi untuk menghadapi ancaman berupa kampanye hitam lebih besar dalam era digital ini.
Normalisasi Isu Iklim dan Tantangan di Redaksi
Normalisasi isu iklim di media juga muncul sebagai tantangan serius. Dengan setiap berita memiliki potensi untuk menjadi cerita iklim, penting untuk menjaga agar tidak terjebak dalam generalisasi yang mengaburkan tanggung jawab. Seringkali, urgensi krisis iklim menjadi kabur karena tidak ada pihak yang jelas bertanggung jawab dalam tindakan perbaikan.
Di lingkungan redaksi, ada ketakutan bahwa terlalu sering memberitakan bencana justru akan membuat audiens jenuh, sementara pemberitaan yang lemah dapat menyebabkan krisis iklim dianggap sepele. Balancing jurnalisme sangat penting untuk menjaga audiens tetap terinformasi namun tidak apatis terhadap situasi kritis yang ada.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, media masih memiliki peranan penting meskipun tantangan semakin kompleks. Memberikan fakta dan menggali kepentingan yang ada tetap menjadi tugas utama jurnalis, meskipun mereka tidak dapat sendirian mengatasi krisis ini.









