Harga emas mengalami lonjakan yang mengesankan dalam beberapa tahun terakhir. Pada penutupan transaksi terbaru, harga emas dunia tercatat mencapai US$4.960,39 per troy ons, menunjukkan ketahanan emas sebagai aset yang aman di tengah berbagai ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, perlu dipahami bahwa secara historis, harga emas memiliki kecenderungan untuk turun ketika suku bunga riil mengalami kenaikan. Namun, di tahun 2022, pola tersebut mulai terganggu, dengan harga emas terus mencatatkan rekor meskipun suku bunga tetap tinggi.
Menarik untuk menyelidiki apa yang menyebabkan fenomena ini. Dalam teori ekonomi dasar, terdapat asumsi bahwa kenaikan suku bunga akan mendorong penurunan harga emas. Namun, realitas pasar saat ini menunjukkan sebaliknya, yang mengundang banyak pertanyaan.
Analisis Fenomena Harga Emas yang Naik di Tengah Suku Bunga Tinggi
Dalam wawasan lebih dalam mengenai perilaku harga emas, kita harus mempertimbangkan beberapa faktor kunci. Meski suku bunga AS tetap berada dalam level tinggi, permintaan akan emas justru semakin kuat. Pertanyaan yang muncul adalah, siapa yang sebenarnya membeli emas dalam situasi ini?
Analisis menunjukkan, bank sentral di negara-negara Timur menjadi pembeli utama emas. Keterlibatan mereka menciptakan permintaan yang cukup stabil, meskipun investor dari negara-negara Barat menjual emas mereka. Perbedaan motivasi dan tujuan investasi mereka membuat skenario pasar menjadi unik.
Data menunjukan lebih dari 2.300 ton emas dibeli oleh bank sentral hanya dalam waktu 30 bulan terakhir. Pembelian ini mencerminkan kekuatan beli yang mampu menopang harga emas meskipun tekanan jual dari investor ETF negara-negara Barat. Fenomena ini patut dicatat sebagai suatu kekuatan baru di pasar emas global.
Dua Tipe Bull Market yang Mempengaruhi Harga Emas
Penting untuk mengenali adanya dua jenis bull market yang dapat mempengaruhi harga emas saat ini. Pertama adalah bull market siklis yang bergantung pada siklus bisnis jangka pendek, dan kedua adalah bull market sekuler yang terjadi dalam jangka panjang.
Kita saat ini sedang berada dalam bull market sekuler untuk emas, yang didorong oleh perubahan struktural di pasar dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Katalis utamanya mencakup hilangnya kepercayaan terhadap utang AS, termasuk sanksi, dan perubahan dalam pola perdagangan internasional.
Dalam konteks ini, indikator teknik seperti RSI sering kali tetap berada dalam zona jenuh beli lebih lama dari yang diperkirakan. Oleh karena itu, strategi konservatif seperti mean reversion tidak dapat diterapkan dengan sukses, sementara pendekatan mengikuti tren menjadi lebih relevan dan efektif.
Strategi Trading yang Efektif di Pasar Emas
Memahami bahwa pola korelasi antara suku bunga dan harga emas telah berubah, maka sangat penting bagi investor untuk menyesuaikan strategi trading mereka. Salah satu pendekatan yang dapat diambil adalah mengandalkan analisis price action dan pemantauan arus dana untuk menentukan langkah yang tepat dalam trading.
Menggunakan indikator moving averages bisa menjadi salah satu cara untuk mengidentifikasi tren pasar. Pemasangan garis EMA 50 dan EMA 200 pada grafik mingguan dapat memberikan sinyal yang lebih jelas tentang pergerakan harga, terutama dalam market bull sekuler.
Selain itu, penting juga untuk tidak melawan sentimen pasar yang didorong oleh kebijakan bank sentral. Dengan adanya dukungan dari bank sentral, harga emas bisa dipertahankan meskipun terjadi fluktuasi jangka pendek akibat suku bunga yang meningkat.










