Jakarta, CNBC Indonesia- Pergerakan nilai tukar Rupiah masih dalam tren pelemahan, di mana pada perdagangan Senin, 17 November 2025, mata uang Garuda melemah 0,21% ke level Rp16.725 per Dolar AS.
Menilik pergerakan nilai tukar Rupiah, SEVP Head of Treasury Sales & Distribution PT Bank CIMB Niaga, Hernaman Tandianto menyebutkan sejumlah sentimen yang mendorong pelemahan Rupiah. Hal ini terkait kebijakan The Fed yang kecil kemungkinan memangkas suku bunga acuan di akhir tahun 2025 efek government shutdown AS yang membuat potensi aliran capital inflow ke emerging market menjadi tertahan.
Selain itu, di dalam negeri, likuiditas yang cukup berlimpah membuat pemain lokal masuk ke pasar obligasi dan pemain asing cenderung keluar sehingga berdampak pada tekanan nilai tukar Rupiah.
Seperti apa arah pergerakan Rupiah saat peluang The Fed pangkas suku bunga susut? Selengkapnya simak dialog Andi Shalini dengan SEVP Head of Treasury Sales & Distribution PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), Hernaman Tandianto dalam Power Lunch, CNBC Indonesia (Senin, 17/11/2025)
Ekonomi global saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan yang kompleks. Salah satu yang paling memengaruhi mata uang lokal adalah keputusan yang diambil oleh bank sentral, seperti The Federal Reserve. Keputusan untuk menjaga suku bunga tetap tinggi dapat memberikan dampak luas, tidak hanya bagi mata uang negara mereka tetapi juga bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Dalam konteks ini, adanya kebijakan yang tidak fleksibel dari Fed menciptakan ketidakpastian bagi investor. Hal ini menghasilkan ketidakstabilan di pasar keuangan dan menghalangi arus modal masuk. Investor menjadi lebih berhati-hati dan cenderung menarik investasi mereka dari pasar yang dianggap berisiko tinggi, termasuk Indonesia.
Penyebab Utama Pelemahan Rupiah di Pasar Global
Selain keputusan suku bunga, terdapat faktor lain yang mempengaruhi pergerakan Rupiah. Salah satunya adalah kondisi ekonomi domestik yang bisa dibilang tidak stabil. Menurunnya daya beli masyarakat dan inflasi yang meningkat menjadi pemicu utama kekhawatiran ini.
Dari sisi permintaan, perkembangan di sektor industri juga berperan penting. Jika sektor-sektor kunci tidak mampu menarik investasi baru, maka dampaknya akan berimbas kepada mata uang. Sektor seperti manufaktur menjadi barometer yang penting bagi kestabilan ekonomi.
Kondisi eksternal seperti ketegangan geopolitik dan masalah rantai pasokan juga berkontribusi pada pelemahan nilai tukar. Ketidakpastian dari luar negeri sering kali menyebabkan investor menarik dana mereka, yang semakin memperburuk kondisi nilai tukar Rupiah.
Impak Likuiditas di Dalam Negeri terhadap Nilai Tukar Rupiah
Likuiditas di pasar keuangan domestik memiliki peran yang signifikan terhadap pergerakan nilai tukar. Dengan tingginya likuiditas, pelaku pasar lokal semakin mudah untuk berinvestasi dalam instrumen obligasi. Namun, ini juga membuat pemain asing cenderung keluar dari pasar.
Pemasukan asing yang menurun mengarah pada berkurangnya dukungan terhadap nilai tukar Rupiah. Sementara itu, tingginya aliran Dana Dalam negeri ke produk domestik terbukti tidak cukup untuk menetralkan pelemahan dari aliran modal asing. Hal ini menciptakan satu tekanan tambahan pada nilai tukar.
Selain itu, likuiditas yang berlebih bisa menyebabkan ketidakstabilan di pasar obligasi itu sendiri. Ketika lebih banyak uang beredar tetapi tanpa dukungan yang kuat dari investasi, akan ada dampak jangka panjang bagi fundamental ekonomi.
Strategi untuk Mengantisipasi Pergerakan Nilai Tukar di Masa Depan
Melihat kondisi ini, sangat penting untuk menyusun strategi yang dapat memitigasi risiko kehilangan nilai tukar. Pemegang kebijakan perlu memperhatikan indikator-ekonomi penting sebagai titik acuan dalam menentukan langkah-langkah pencegahan yang tepat.
Pemerintah juga perlu menciptakan iklim investasi yang lebih baik dan menarik untuk meningkatkan kepentingan investor asing. Ini bisa dilakukan dengan memperbaiki infrastruktur dan menghilangkan hambatan regulasi yang sering dijumpai.
Tak kalah penting, perbaikan dalam sektor industri lokal juga harus menjadi fokus. Jika sektor industri dapat berkontribusi lebih pada PDB, maka akan ada harapan untuk memperkuat nilai Tukar Rupiah di masa depan.











